BerandaFun MusikBlack Patrol Gelar Konferensi Pers Jelang Penampilan Kedua di Jakarta

Black Patrol Gelar Konferensi Pers Jelang Penampilan Kedua di Jakarta

Sore itu, di sela persiapan pertunjukan malam hari, band asal Jepang Black Patrol menggelar konferensi pers bersama awak media di Jakarta (24/08). Acara dipandu oleh perwakilan Liquid Indonesia, agensi kreatif yang menjadi creative director dan produser untuk pertunjukan ini.

Latar Belakang Acara

Mengawali sesi, perwakilan Liquid Indonesia memperkenalkan diri dan agensinya sebagai creative production agency yang kerap menghadirkan karya seni di ruang publik — mulai dari instalasi seni, konser musik, hingga proyek brand. Pada kesempatan kali ini, Liquid Indonesia dipercaya oleh Sony Music Japan untuk menangani sisi kreatif dan produksi acara “Black Patrol Live in Jakarta”, yang didukung oleh sejumlah pihak termasuk Sony Music Japan dan beberapa mitra lain yang disebutkan dalam sambutan.

Malam itu, pukul 19.30 WIB, Black Patrol dijadwalkan tampil untuk kali kedua di Indonesia, berbagi panggung dengan lima artis lain. Panitia menyampaikan harapan agar pertunjukan lintas negara ini bisa menjadi wadah eksplorasi seni yang lebih luas sekaligus turut mendukung ekosistem industri musik pertunjukan di Jakarta.

Asal-usul Black Patrol

Ditanya soal awal mula terbentuknya band, salah satu anggota (melalui penerjemah) bercerita bahwa Black Patrol lahir di Kyoto, saat para personelnya masih berstatus mahasiswa. Bermula dari lingkaran pertemanan yang sama-sama gemar bermain musik, mereka ingin mengubah cara musik yang mereka mainkan — yang saat itu dipengaruhi K-Pop — menjadi sesuatu yang lebih sesuai dengan visi mereka sendiri. Dari situlah kumpulan teman ini berkembang menjadi Black Patrol seperti sekarang.

Soal nama band, dijelaskan bahwa “Black Patrol” sebenarnya tidak punya makna filosofis yang dalam. Mereka menyukai pola nama yang menggabungkan kata benda dan kata sifat — mereka mencontohkan nama band lain, “White Jam”, sebagai referensi pola serupa. Saat memilih nama, kata “bensin” terlintas di benak mereka, lalu asosiasi warna dari bensin — hitam — itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal nama Black Patrol.

Pengalaman Manggung Paling Berkesan

Ketika ditanya pengalaman tampil yang paling membekas, band bercerita tentang momen di Thailand. Saat itu terjadi sesi interaksi call-and-response dengan penonton: ketika mereka meneriakkan “sushi,” penonton membalas dengan “ramen” — respons yang menurut mereka sangat meriah dan menjadikan momen tersebut sebagai salah satu pengalaman panggung paling mengesankan.

Kesan Tentang Jakarta

Band juga membagikan kesan mereka terhadap Jakarta dalam beberapa kata kunci:

  • Harmoni — ada keramaian dan kekacauan khas Jakarta, tapi juga ditemukan sisi tenang di tengahnya.
  • Damai — mereka merasakan keramahan warga Jakarta yang murah senyum.
  • Kebebasan — diceritakan pengalaman berjalan di sekitar kawasan Blok M, melihat orang bermain catur di pinggir jalan, dan tak jauh dari situ ada seorang bapak yang tertidur bersama seekor kucing. Bagi mereka, ini menggambarkan kebebasan orang Jakarta untuk hidup sesuai keinginannya.
  • Nongkrong — disamakan dengan istilah tamuro dalam bahasa Jepang, mereka mengamati banyak orang yang duduk santai, ngobrol, dan minum kopi tanpa terburu-buru.
  • Kopi — meski belum menemukan makanan Indonesia yang benar-benar cocok dengan lidah mereka (dianggap terlalu pedas atau terlalu manis), mereka mengaku kopi di Jakarta sangat cocok, bahkan disebut lebih enak dibanding kopi yang biasa mereka minum di Jepang.

Sesi Tanya Jawab

Soal perbedaan energi panggung besar vs. venue intim: Band menjelaskan bahwa tampil di panggung festival besar biasanya membawa ketegangan tersendiri karena skalanya yang besar. Sebaliknya, di venue yang lebih intim seperti tempat konferensi pers ini berlangsung, mereka bisa membangun suasana yang lebih santai dan dekat dengan penonton, meski tetap ada penyesuaian performa yang dilakukan.

Soal proses kreatif album terbaru: Untuk album terbaru, band menyebut mereka memberi kebebasan lebih besar bagi setiap anggota untuk mengeksplorasi bagian musiknya masing-masing sesuai arahan konsep dari pencipta lagu.

Soal perpaduan genre (hip hop, jazz, dan lainnya): Ditanya bagaimana mereka meracik berbagai pengaruh genre jadi satu kesatuan, dijelaskan bahwa pencipta lagu di band ini — yang juga berperan sebagai gitaris — memposisikan diri lebih sebagai pengarah yang memberi masukan kepada tiap anggota, memastikan setiap elemen bunyi sesuai dengan visi lagu yang ingin diciptakan.

Soal target pasar (Jepang vs. luar negeri): Band mengaku tidak terlalu memikirkan apakah karya mereka ditujukan untuk pasar Jepang atau luar negeri. Fokus mereka lebih kepada menangkap dan mengekspresikan pengalaman serta perasaan mereka sendiri — termasuk inspirasi yang didapat selama berada di Jakarta — ke dalam karya musik.

Pesan untuk pendengar baru: Menjawab pertanyaan dari salah satu jurnalis yang baru pertama kali mendengar musik mereka, band berharap siapa pun yang mendengarkan lagu-lagu Black Patrol bisa sejenak melupakan keresahan yang ada di kepala dan larut mengikuti alunan musik mereka.

Penutup

Sesi konferensi pers ditutup dengan penampilan spesial khusus untuk awak media sebelum sesi foto bersama, sebagai pembuka sebelum band tampil di panggung utama malam itu.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments