Jum’at, 19 Juni 2026, suasana TK Islam Miftahul Jannah di Ciracas, Jakarta Timur, sedikit berbeda dari biasanya. Ruang kelas yang biasa dipenuhi tawa anak-anak kini berubah menjadi ruang pelatihan bagi para guru. Tim dari Fakultas Teknik Informatika (FTIK) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) hadir untuk membawakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang telah dirancang sejak Maret 2026 — sebuah pelatihan yang memadukan dua kebutuhan mendesak sekaligus: keamanan data digital dan kemampuan membuat konten mengajar yang menarik.
Kegiatan bertajuk “Pelatihan Dasar Instalasi Perangkat PC Menggunakan Kaspersky Internet Security” ini diketuai oleh Dona Katarina, S.Kom., M.Pd., didampingi dua dosen anggota, Muslihatul Hidayah, S.Pd., M.Pd. dan Erlin Windia A., S.T., M.Kom. Yang menarik, pelatihan ini juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa — Najwa Amanda (NPM 202343501306) — yang tidak sekadar hadir sebagai peserta biasa, melainkan turut ambil bagian sebagai panitia penyelenggara sekaligus pembicara dalam sesi Canva.
Siapa Bicara Apa: Pembagian Sesi Pelatihan
Pelatihan pada 19 Juni 2026 dibagi ke dalam dua blok sesi utama dengan pembicara yang berbeda sesuai keahlian masing-masing.
Sesi 1 — Keamanan Data & Instalasi Kaspersky
▸ Dona Katarina, S.Kom., M.Pd. — Ketua Tim PkM / Dosen Teknik Informatika     Topik: Keamanan Data untuk Guru — mengapa data sekolah rentan, jenis ancaman siber (phishing, malware, ransomware, spyware), dan urgensi antivirus di lingkungan pendidikan
▸ Muslihatul Hidayah, S.Pd., M.Pd. — Anggota Tim PkM / Dosen Teknik Informatika     Topik: Cara Kerja Antivirus & Perbandingan Antivirus Gratis vs. Premium — membantu guru memahami mekanisme scanning, detection, dan quarantine, serta mengapa Kaspersky dipilih sebagai solusi
▸ Erlin Windia A., S.T., M.Kom. — Anggota Tim PkM / Dosen Teknik Informatika      Topik: Langkah Praktis Instalasi Kaspersky Internet Security & Kebiasaan Digital Aman Sehari-hari — panduan teknis langsung di perangkat, mulai dari update rutin, scan flashdisk, hingga backup data di cloud
Sesi 2 — Tutorial Canva untuk Kebutuhan Kelas
▸ Najwa Amanda — Mahasiswa Teknik Informatika / Panitia & Pembicara      Topik: Tutorial Canva — cara register dan login, mencari template siap pakai, mengedit teks dan elemen, mengunggah foto pribadi, hingga menyimpan dan mengunduh desain; dibawakan untuk versi laptop dan HP
Pembagian peran ini memungkinkan tiap sesi disampaikan oleh orang yang paling menguasai materi tersebut. Sementara para dosen fokus pada aspek teknis keamanan siber yang membutuhkan kedalaman pemahaman, Najwa Amanda membawakan sesi Canva dengan pendekatan yang lebih ringan dan segar — menjembatani antara penguasaan teknologi dan kebutuhan sehari-hari para guru di kelas.
Ancaman Siber Bukan Lagi Urusan Orang IT

Dona Katarina membuka sesi pertama dengan pertanyaan sederhana yang langsung mengena: seberapa banyak data siswa yang tersimpan di laptop para guru tanpa perlindungan apapun? Jawaban yang muncul dari peserta cukup mengkhawatirkan — sebagian besar bahkan belum pernah memasang antivirus sama sekali.
Dalam pemaparannya, Dona menjelaskan bahwa ancaman siber paling umum yang menyasar institusi pendidikan mencakup empat jenis utama: phishing melalui email atau pesan palsu, malware yang merusak sistem, ransomware yang mengunci data dan meminta tebusan, serta spyware yang mencuri informasi secara diam-diam. Data dari laporan Sophos 2024 yang ia kutip cukup membuat peserta tersentak — 63 persen sekolah secara global pernah diserang ransomware, sementara 90 persen pelanggaran data berawal dari skema phishing sederhana.
Muslihatul Hidayah kemudian melanjutkan dengan menjelaskan cara kerja antivirus secara mudah dipahami: scanning memindai setiap file yang masuk, detection mengenali pola mencurigakan, dan quarantine mengisolasi ancaman sebelum sempat merusak dokumen penting. Ia juga memaparkan perbandingan jelas antara antivirus gratis dan premium, termasuk alasan mengapa Kaspersky Internet Security dipilih — mulai dari perlindungan ransomware penuh, firewall aktif, hingga update real-time yang jauh lebih responsif.
Erlin Windia menutup sesi pertama dengan praktik langsung di perangkat: instalasi Kaspersky langkah demi langkah, dilanjutkan dengan empat kebiasaan digital aman yang langsung bisa diterapkan setiap hari — memperbarui antivirus secara rutin, memindai flashdisk sebelum membuka filenya, menyimpan salinan data penting di Google Drive atau OneDrive, serta tidak sembarangan mengklik tautan dari email yang tidak dikenal.
Sesi Canva: Ketika Desain Tak Lagi Jadi Hambatan

Kalau sesi pertama lebih banyak diisi dengan rasa khawatir, sesi kedua yang dibawakan Najwa Amanda langsung mengubah suasana menjadi lebih cair dan antusias. Sebagai mahasiswa yang sehari-hari akrab dengan Canva, Najwa membawakan materi dengan gaya yang lebih santai dan interaktif — cocok untuk peserta yang sebelumnya belum pernah menyentuh platform desain apapun.
Najwa memulai dari titik paling awal: cara mendaftar dan masuk ke Canva menggunakan akun Google, lalu langsung masuk ke “rahasia utama” yang ia tekankan berulang kali — jangan pernah mulai dari kanvas kosong, selalu cari template dulu. Para guru diajarkan cara mengetik kebutuhan mereka di kolom pencarian, misalnya “jadwal piket” atau “poster hari kemerdekaan”, lalu memilih template yang paling sesuai.
Sesi dilanjutkan dengan tiga keterampilan inti: mengedit teks (mengubah nama, judul, dan font), menambahkan elemen hiasan dari library Canva, dan mengunggah foto sendiri dari laptop maupun HP. Materi dibedakan antara tampilan desktop dan aplikasi HP agar semua peserta bisa langsung mempraktikkan sesuai perangkat yang mereka bawa. Di akhir sesi, Najwa menutup dengan tantangan: membuat satu poster sederhana dengan tema bebas. Semua peserta berhasil menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 20 menit.
Keterlibatan mahasiswa dalam PkM seperti ini, menurut tim dosen, adalah bagian penting dari proses pembelajaran yang tidak bisa digantikan oleh perkuliahan di kelas.
PkM Sebagai Jembatan Kampus ke Masyarakat
Kegiatan 19 Juni 2026 ini merupakan bagian dari rangkaian PkM yang dijadwalkan berlangsung hingga Agustus 2026, dengan skema pemberdayaan kemitraan masyarakat pendanaan mandiri Unindra Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, di bawah naungan LRPM Unindra yang dikepalai Dr. Akhmad Sefudin.
Dengan memilih TK Islam Miftahul Jannah sebagai mitra, tim Unindra menegaskan bahwa literasi digital tidak harus dimulai dari jenjang pendidikan tinggi. Justru memperkuat fondasi di tingkat pendidikan anak usia dini — di mana guru memegang data paling personal dari keluarga siswa — adalah langkah yang paling mendesak sekaligus paling berdampak.
“Keamanan data bukan hanya tugas staf IT, tapi merupakan tanggung jawab etis setiap pendidik di era digital” — kalimat itu bukan sekadar penutup sesi. Bagi para guru yang hadir pada 19 Juni 2026, kalimat itu tampaknya sudah mulai mengubah cara pandang mereka terhadap laptop yang setiap hari mereka bawa ke sekolah.
