Buat kamu yang suka nonton anime atau baca manga bertema olahraga seperti Haikyu!!, Slam Dunk, atau Blue Lock, pasti sering dengar istilah “Spokon”. Genre ini selalu sukses bikin penontonnya ikut tegang, merinding, bahkan sampai ikutan pengin olahraga.
Tapi, pernah penasaran enggak sih dari mana sebenarnya kata “Spokon” ini muncul? Apakah ini bahasa gaul anak muda Jepang zaman dulu, atau ada cerita lain di baliknya?
Yuk, kita bedah sejarahnya!
Hasil “Perkawinan” Dua Kata
Secara bahasa, kata Spokon (スポ根) sebenarnya adalah sebuah singkatan kreatif atau portmanteau. Kata ini gabungan dari dua kata:
Sports (スポーツ – Supōtsu): Olahraga.
Konjo (根性 – Konjō): Istilah bahasa Jepang yang artinya semangat pantang menyerah, tekad baja, atau keberanian.
Jadi, kalau digabung, Spokon itu artinya “olahraga yang dijalani dengan modal tekad baja dan semangat pantang menyerah”.
Lahir dari Strategi Media dan Majalah Legendaris
Menariknya, istilah ini enggak lahir dari obrolan tongkrongan masyarakat umum. Kata Spokon pertama kali diramu oleh para jurnalis dan pengamat media pada akhir tahun 1960-an untuk melabeli tren cerita baru di Majalah Weekly Shōnen Magazine (diterbitkan oleh Kodansha).
Pada tahun 1966, majalah tersebut meledak di pasaran lewat komik bisbol legendaris berjudul “Star of the Giants” (Kyojin no Hoshi). Berbeda dengan komik olahraga biasa saat itu, komik ini sangat fokus pada elemen latihan fisik yang ekstrem, penderitaan, dan tekad baja (konjo) tokoh utamanya demi menjadi juara.
Melihat formula baru ini laku keras, media dan pihak penerbit mulai mempromosikannya secara masif dengan label genre Spokon. Tak lama kemudian, majalah saingan seperti Weekly Margaret (diterbitkan oleh Shueisha) ikut memakai istilah yang sama saat merilis komik voli putri “Attack No. 1” (1968). Lewat promosi cetak di majalah-majalah raksasa inilah, masyarakat akhirnya ikutan memakai istilah Spokon hingga hari ini.
Dulu yang Menyiksa, Sekarang yang Logis
Pada era awal di tahun 60-an dan 70-an, ciri khas Spokon terkesan agak ekstrem: latihan fisik yang enggak masuk akal, cedera parah tapi dipaksa main, dan penuh drama air mata. Hal ini dipicu oleh semangat masyarakat Jepang yang saat itu sedang berjuang membangun kembali negaranya pasca-Perang Dunia II dan terinspirasi oleh kesuksesan tim voli putri Jepang di Olimpiade Tokyo 1964.
Seiring berjalannya waktu, genre Spokon berubah jadi lebih modern dan realistis. Anime olahraga zaman sekarang seperti Haikyu!! atau Ace of Diamond lebih fokus pada strategi taktis, kesehatan mental, dan kerja sama tim yang logis.
Meski begitu, satu hal yang enggak pernah hilang dari Spokon: esensi konjo alias semangat untuk bangkit lagi setelah kalah. Jadi, lewat trik pemasaran media di tahun 60-an itulah, kita sekarang bisa menikmati keseruan anime olahraga yang bikin kecanduan!
