Kabar gembira buat dunia pendidikan dan para mahasiswa di Indonesia! Singapore Chamber of Commerce Indonesia (SingCham) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap masa depan anak muda lewat program keren bernama SingCham Uplifting Scholarship 2026. Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, beasiswa ini disalurkan oleh entitas bisnis Singapura yang beroperasi di Indonesia untuk mendidik dan mendukung perkembangan talenta masa depan. Menariknya, kuota penerima beasiswa tahun ini meningkat cukup signifikan, lho! Kalau tahun lalu hanya ada 8 orang, kali ini ada 13 mahasiswa beruntung yang berhasil lolos seleksi. Program ini menyasar para mahasiswa aktif jenjang sarjana yang berada di tahun ketiga hingga keempat kuliah mereka, sebagai bekal penting sebelum mereka benar-benar melangkah ke dunia kerja profesional yang sesungguhnya.
Ada yang berbeda juga dari pelaksanaan tahun kedua ini. Bertepatan dengan perayaan 20 tahun kehadiran SingCham di Indonesia, mereka memutuskan untuk memperluas jangkauan wilayahnya. Jika sebelumnya target penerima beasiswa hanya berfokus pada kampus-kampus di wilayah Jabodetabek, sekarang kesempatannya juga dibuka lebar bagi teman-teman mahasiswa yang berkuliah di daerah Bandung Raya. Hal ini menjadi bukti nyata komitmen SingCham dalam merangkul lebih banyak talenta muda potensial melalui program bimbingan, pembekalan nilai kepemimpinan, hingga pengenalan langsung terhadap dunia kerja.
Ke-13 penerima beasiswa terpilih merupakan representasi dari berbagai universitas ternama, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), BINUS University, Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), IPMI International Business School, UPN Veteran Jakarta, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Apresiasi luar biasa pun ditunjukkan dalam acara penyerahan simbolis beasiswa yang diselenggarakan di gedung UOB Plaza, Jakarta. Acara ini dihadiri langsung oleh Duta Besar Singapura untuk Indonesia, H.E. Kwok Fook Seng, yang memberikan selamat kepada para mahasiswa penerima manfaat. Untuk menyukseskan program ini, SingCham tidak bergerak sendirian. SingCham Uplifting Scholarship 2026 ini dikelola secara kolaboratif oleh I-SMART dan Kinobi, serta bekerja sama erat dengan Singapore Global Network (SGN).
Satu hal yang membuat program beasiswa ini terasa sangat spesial dan berbeda dari yang lain adalah dukungannya yang sangat komprehensif. Jadi, para penerima tidak hanya mendapatkan bantuan finansial untuk kuliah saja, tetapi seluruh 13 mahasiswa tersebut juga akan mendapatkan kesempatan emas untuk magang langsung di perusahaan-perusahaan sponsor asal Singapura yang beroperasi di Indonesia. Perusahaan sponsor yang terlibat tahun ini pun tidak main-main, ada UOB Indonesia, Titan Corporation, Tuah & Suparto Advocates & Solicitors, APRW, Withers, hingga Coromandel Productions.
Lewat skema ini, para mahasiswa bisa langsung belajar dari para praktisi bisnis hebat melalui program mentorship. Shoeb Kagda selaku Chairman of SingCham Indonesia sempat membagikan pandangannya bahwa paparan industri secara langsung di tengah dunia kerja yang dinamis ini sangat krusial guna membangun keterampilan, kepercayaan diri, serta wawasan mendalam yang akan sangat berguna saat mereka bekerja nanti.

Hal senada juga diungkapkan oleh Luke Ariefiandi, Head of Strategic Communications and Brand di UOB Indonesia. Sebagai salah satu sponsor utama, UOB Indonesia percaya bahwa mencetak talenta yang siap menghadapi tantangan masa depan adalah kunci penting untuk membangun Indonesia yang lebih kuat dan kompetitif. Mereka berharap program ini mampu melahirkan talenta muda berwawasan global yang punya rasa percaya diri tinggi agar bisa bersaing di kancah ekonomi internasional, terutama di wilayah ASEAN.
Dari sisi proses seleksi, Kinobi selaku pengelola program mencatat adanya lonjakan pendaftar yang sangat signifikan tahun ini, baik dari segi kuantitas maupun kualitas mahasiswanya. Hafiz Kasman, CEO Kinobi, menjelaskan bahwa dalam proses kurasi, mereka tidak hanya melihat prestasi akademik di atas kertas saja. Porsi penilaian juga dibagi rata untuk melihat aspek motivasi, potensi kepemimpinan, dan kemampuan memecahkan masalah (problem-solving) lewat esai studi kasus bisnis nyata. Mahasiswa zaman sekarang dituntut tidak hanya jago secara teknis, tapi juga harus adaptif terhadap teknologi AI, inovatif, punya jiwa kewirausahaan yang kuat, serta mampu berkolaborasi secara global lintas budaya.
