BerandaFun Event20 Tahun Perjalanan Echow: Dari Komunitas Lokal Menuju Panggung Dunia

20 Tahun Perjalanan Echow: Dari Komunitas Lokal Menuju Panggung Dunia

Ketika Echow pertama kali menginjakkan kaki di sebuah event cosplay sekitar tahun 2004–2005, kostum yang ia kenakan jauh dari kata sempurna. Rambutnya hanya disemprot cat kaleng warna-warni, celananya beli di pasar. Tapi di sanalah sesuatu terjadi percikan yang tidak akan padam selama dua dekade berikutnya.

Kini, dua puluh tahun kemudian, cosplayer asal Jakarta itu akan tampil sebagai International Cosplay Guest di Casale Comics & Games, festival pop culture yang berlangsung di Casale Monferrato, Italia, pada 23–24 Mei 2026.

Perjalanan menuju panggung Eropa itu tidak terjadi dalam semalam. Ia terbentuk dari ratusan jam di depan meja kerja, ribuan kilometer perjalanan ke mancanegara, dan satu dua kali kegagalan yang justru menjadi batu loncatan.

Era Pertama (2004–2011): Belajar dari Nol

Echow tumbuh di era ketika internet belum bisa diandalkan sebagai sumber informasi. Referensi cosplay datang dari majalah anime yang terbit sebulan atau tiga bulan sekali — tipis, mahal, dan cepat habis di toko.

“Dulu gak ada yang jual kostum. Gak ada marketplace online. Segala informasi cuma dari TV atau majalah,” kenangnya. Ketika ia menemukan komunitas cosplay lokal dan mulai mencoba, tantangan pertamanya adalah soal material. Bahan impor sulit didapat dan mahal. Ia bereksperimen dengan kertas, kardus, dan foam tipis — sampai suatu hari menemukan EVA foam, bahan karet murah yang ternyata bisa dibentuk, dipotong, dan dicat menjadi struktur armor yang solid.

“Dari situ aku menemukan dunia aku,” ujarnya.

Fase ini adalah masa eksplorasi murni. Echow belajar sendiri mulai dari cara menjahit, menempel, membentuk, hingga merias wajah. Tidak ada mentor, tidak ada kelas. Hanya rasa ingin tahu dan obsesi terhadap karakter-karakter dari anime, manga, dan game yang ia cintai.

Era Kedua (2011–2013): Dari Keseriusan dari Kostum ke Panggung

Memasuki tahun 2011, Echow mulai menyadari bahwa cosplay bukan hanya soal kostum yang bagus. Ada dimensi lain yang belum ia eksplorasi: performance. “Cosplay itu ternyata gak cuma tentang pakaian. Ada gimana kamu membawakan karakter di atas panggung, gimana kamu menjiwainya, gimana penonton bisa merasakannya,” jelasnya.

Ia mulai mengembangkan kemampuan koreografi dan stage presence — mempelajari bagaimana gerakan, ekspresi, dan timing bisa memperkuat karakter yang ia perankan. Proses ini mengubah caranya memandang setiap proyek kostum: bukan sebagai karya yang hanya dipandang, tetapi sebagai bagian dari pertunjukan yang utuh.

Puncak dari era ini datang pada 2013, ketika Echow berhasil mewakili Indonesia di World Cosplay Summit (WCS) di Nagoya, Jepang — kompetisi cosplay terbesar di dunia. Ia berlatih hampir setiap minggu selama beberapa bulan demi mempersiapkan penampilan berdurasi sekitar dua menit yang harus mampu menceritakan karakter, menghibur, sekaligus meninggalkan kesan mendalam.

“Di sana aku melihat bahwa cosplay itu dirayakan oleh seluruh dunia. Ini bukan cuma hobi
samapai ini bisa jadi karir, bisnis, dan passion yang nyambung ke banyak hal lain,” kenangnya. WCS 2013 adalah titik balik. Bukan hanya soal kompetisi, tetapi soal jaringan. Di sana, Echow bertemu cosplayer dari berbagai negara — termasuk seseorang dari Italia yang kelak memainkan peran penting dalam perjalanannya.

Era Ketiga (2014–2019): Membangun Jejak Internasional

Pasca-WCS, pintu mulai terbuka satu per satu. Tahun 2014, Echow menerima undangan pertamanya ke luar negeri sebagai international guest — ke Filipina. Dari sana, perjalanan internasionalnya terus berkembang.

Ia tampil di Anime Expo (Los Angeles), C2E2 Comic Con (Chicago), Japan Expo (Paris), Polymanga (Swiss), AnimeCon (Rotterdam), dan Comic Fiesta (Kuala Lumpur) — mencakup lebih dari 10 negara dan 35 kota dalam perjalanan karirnya.

Di setiap event, ia tidak hanya tampil sebagai cosplayer, tetapi juga mulai dipercaya sebagai juri kompetisi — menilai kostum, performa, dan kreativitas cosplayer dari berbagai penjuru dunia.

Salah satu momen yang paling ia kenang adalah membawa sebuah kostum mekanis ke C2E2 di Chicago — kostum yang membutuhkan lebih dari satu tahun pengerjaan, dengan sistem panel yang bisa terbuka dan tertutup, lampu internal, dan konstruksi yang harus dibongkar-pasang agar bisa masuk bagasi pesawat.

“Aku suka yang aneh-aneh. Mekanisme yang gak nalar, bentuk yang biasanya dianggap mustahil diwujudkan secara fisik,” ungkapnya.

Di era yang sama, relasi yang dibangun di WCS 2013 terus terpelihara. Teman-teman dari berbagai negara saling mengunjungi. Temannya dari Italia datang ke Indonesia pada 2018, jalan-jalan ke Jakarta dan Bali. Hubungan yang awalnya terbentuk di arena kompetisi kini berkembang menjadi persahabatan lintas budaya — dan benih undangan ke Italia mulai tertanam.

Kendala Pertama: Italia yang Gagal

Sekitar tahun 2022–2023, kesempatan pertama ke Italia sempat muncul. Echow mendapat rekomendasi dan terlihat ada peluang untuk hadir di sebuah event di sana. Namun rencan itu kandas di tengah jalan. “Ada problem. Di event itu ada berbagai EO yang terlibat, dan akhirnya ada kendala yang membuat itu tidak terjadi,” ceritanya.

Alih-alih larut dalam kekecewaan, Echow mengambil sikap yang ia pegang sebagai prinsip hidup: “Kalau hari ini tidak terjadi, berarti ada hal lain yang lebih baik yang sudah disiapkan.” Dan ternyata benar. Dari jaringan yang sama, dari orang-orang yang sama — rekomendasi itu terus berjalan diam-diam. Hingga akhirnya, undangan resmi dari penyelenggara MONs.n.c di Adriano Taricco & C tiba di inbox-nya untuk Casale Comics & Games 2026.

Kendala Kedua: Soal Koper dan Kostum

Mendapat undangan saja tidak otomatis membuat segalanya mudah. Salah satu tantangan praktis yang Echow hadapi dalam mempersiapkan keberangkatan ke Italia adalah urusan membawa kostum.

Kostum armor buatannya — yang besar, berat, dan penuh mekanisme — tidak bisa begitu saja masuk koper biasa. Ia biasanya menggunakan koper berukuran besar yang bisa memuat banyak kostum sekaligus. Namun untuk perjalanan kali ini, situasinya lebih rumit.
Rute penerbangan yang tersedia melibatkan transit di negara yang sedang bergejolak, dan maskapai yang dipertimbangkan memiliki aturan ketat soal jumlah bagasi. Echow sempat mempertimbangkan berbagai opsi — termasuk membawa dua koper — sebelum akhirnya menyesuaikan dengan aturan yang berlaku.

“Yang terpenting bisa sampai di sana dulu. Soal kostum yang tidak bisa dibawa, ya sudah — itu di luar kendali. Penyelenggara pun bilang, yang penting kamu datang,” ujarnya.

Era Keempat (2020–Sekarang): Educator dan Konten Kreator

Pandemi menjadi masa yang memaksa banyak cosplayer untuk berhenti. Bagi Echow, itu justru menjadi waktu untuk bertransformasi. Tanpa event fisik, ia beralih ke dunia konten digital — dan menemukan tantangan baru yang tidak kalah besar.

“Awalnya kontenku jelek. Insight-nya buruk. Tapi aku belajar, bertanya ke teman-teman konten kreator, dan pelan-pelan menemukan formula yang pas,” akunya.

Ia membangun 1O1 Cosplay Community — sebuah platform edukasi yang aktif membagikan tutorial teknik pembuatan kostum, mulai dari cara memilih bahan yang tepat, teknik pengeleman yang benar dan tahan lama, hingga cara menjaga kostum agar awet bertahun-tahun.

Baginya, salah satu kesenjangan terbesar di komunitas cosplay Indonesia adalah pengetahuan teknis dasar. “Banyak yang pakai lem yang salah, bahan yang cepat rusak, tanpa tahu ada alternatif yang jauh lebih baik. Ketika aku bagikan di konten dan orang langsung bisa menerapkannya — itu sendiri yang jadi bahan bakar aku untuk terus berbagi,” tuturnya.

Kolaborasinya dengan Diton Spray Paint turut memperluas ruang eksplorasi ini — memperkenalkan teknik pengecatan berbasis industri ke dalam dunia pembuatan kostum, dan sekaligus membuka jalur kolaborasi antara dunia kreator dengan sektor industri yang selama ini tidak saling menyapa.

Pasca-pandemi, langkahnya kembali ke panggung internasional. Tahun 2025, ia hadir sebagai international guest dan juri di Kuching Comic Con serta TGK! Matsuri di Davao, Filipina.

Italia: Puncak Dua Dekade

Undangan ke Casale Comics & Games bukan datang dari pendaftaran atau audisi. Ia datang dari relasi yang dirawat selama bertahun-tahun — dimulai dari perjumpaan di
WCS 2013, dipelihara melalui kunjungan dan komunikasi lintas negara, dan akhirnya berbuah pada sebuah email resmi yang membuat Echow langsung gemetar.

“Mereka menulis bahwa mereka yakin audiens akan sangat senang bertemu aku. Aku langsung getar baca itu,” kenangnya. Di Italia, ia akan menjalani empat peran sekaligus: juri kompetisi cosplay internasional, panel speaker, pembicara sesi public talk, dan meet & greet bersama pengunjung festival.

Bagi Echow, momen ini bukan tentang validasi dari luar. Ini adalah refleksi dari satu perinsip yang ia pegang sejak awal: “Hal yang dulu terasa jauh, ternyata bisa dicapai melalui proses yang konsisten. Dua dekade cosplay mengajarkan aku bahwa kalau kamu suka sesuatu dan kamu konsisten, jalan itu akan terbuka — kadang dengan cara yang tidak kamu duga.” Dan ia berharap perjalanan ini tidak hanya menjadi kisahnya sendiri.
“Kalau pengalaman ini bisa membuktikan kepada cosplayer muda Indonesia bahwa jalan itu nyata dan bisa ditempuh — itu jauh lebih berarti dari undangan manapun,” pungkasnya.

 

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments