Eyang Suro Guru Besar Dari Aliran Pencak Silat Indonesia

99

Mediahaverfun.com – Jakarta. Setelah pembahasan tentang organisasi aliran pencak silat setia hati atau persaudaraan setia hati, kini saat menceritakan siapa pendiri setia hati yang bisa disebut juga guru besar dari para aliran pencak silat di Indonesia. Adanya berbagai versi kelahiran Eyang Suro yang bermunculan. Cerita mengenai silsilah tersebut selisih hanya 6 tahun dan semua kehidupannya berceritakan sama, maka oleh karena itu penulis membuat dua versi untuk kelahiran beliau dan selanjutnya yang membedakan hanya pada tahun saja:

Tahun 1869 ( Versi pertama )

Ki Ngabei Ageng Soerordiwirdjo, nama singkatnya yaitu Muhammad Masdan lahir pada tahun tersebut pada hari sabtu pahing, beliau merupakan keturunan dari bupati gresik di kota Surabaya

Susunan nya seperti ini:

Ki Ngabehi Soeromiharjo merupakan nama ayahnya sebagai mantra Cacar Ngimbang ( Lamongan ) yang mempunyai 5 anak putera yaitu:

  1. Ki Ngabehi Soerodiwirjo (Masdan)
    2. Noto (Gunari), di Surabaya
    3. Adi (Soeradi), di Aceh
    4. Wongsoharjo, di Madiun
    5. Kartodiwirjo, di Jombang
Tahun 1876 ( Versi Kedua )

Ki Ngabei Ageng Soerordiwirdjo, nama singkatnya yaitu Muhammad Masdan, yang lahir pada tahun 1876 di kota Surabaya putra sulung Ki Ngabei Soemiharjo ( mantra cacar di ngimbang, kabupaten jombang ) Ki Ngabei Soemiharjo adalah saudara sepupu RAA Soeronegoro ( Bupati Kediri pada masa itu). Ki Ageng Soerodiwirdjo mempunyai garis keturunan batoro katong di Ponorogo, putra prabu Brawijaya Majapahit

Tahun 1884 / 1890

Diusia 14 tahun beliau lulus Sekolah Rakyat sekarang menjadi SD kemudian diambil putra oleh pamanya (wedono di wonokromo)

Tahun 1885 /  1891

Eyang Suro tepat berusia 15 tahun ikut seorang kontrolir belanda di pekerjakan sebagai juru tulis tetapi harus magang dahulu (sekarang capeg). Pada usia yang relatif masih muda Ki Ageng Soerodiwirdjo mengaji di pondok pesantren Tibu ireng jombang,

Tahun 1885 / 1892

Beliau mulai belajar tentang pencak silat di pondok Pesantren Tibu Ireng, lalu beliau pindah ke bandung tepatnya di parahyangan di daerah ini beliau berkesempatan menambah kepandaian ilmu pencak silat. Ki Ageng Soerodiwirdjo adalah seorang yang berbakat, berkemauan keras dan dapat berfikir cepat serta dapat menghimpun bermacam-macam gerak langkah permainan. Pencak silat yang di ikuti antar lain:
* Cimande
* Cikalong
* Cibaduyut
* Ciampea
* Sumedangan

Tahun 1893

beliau pindah ke jakarta, di kota betawi ini hanya satu tahun tetapi dapat mempergunakan waktunya untuk menambah pengetahuan dalam belajar pencak silat yaitu:
* Betawian
* Kwitangan
* Monyetan
* Toya

Tahun 1894

Ki Ageng Soerodiwirdjo pindah ke bengkulu karena pada saat itu orang yang di ikutinya (orang belanda) pindah kesana.di bengkulu permainanya sama dengan di jawa barat, enam bulan kemudian pindah ke padang. Di kedua daerah ini Ki Ageng Soerodiwirdjo juga memperdalam dan menambah pengetahuannya tentang dunia pencak silat. Permainan yang diperolehnya antara lain : minangkabau
* Permainan padang Pariaman
* Permainan padang Sidempoan
* Permainan padang Panjang
* Permainan padang Pesur / padang baru
* Permainan padang sikante
* Permainan padang alai
* Permainan padang partaikan

Permainan yang di dapat dari bukit tinggi yakni :
* Permainan Orang lawah
* Permainan lintang
* Permainan solok
* Permainan singkarak
* Permainan sipei
* Permainan paya punggung
* Permainan katak gadang
* Permainan air bangis
* Permainan tariakan

Dari daerah tersebut salah satu gurunya adalah Datuk Rajo Batuah. Beliau disamping mengajarkan ilmu kerohanian. Dimana ilmu kerohanian ini diberikan kepada murid-murid beliau di tingkat II.

Tahun 1897 ( versi pertama )

Ketika genap berusia 28 tahun, eyang suro jatuh cinta kepada seorang gadis padang. Puteri dari seorang ahli kebatinan yang berdasarkan agama islam ( Tasawuf ),  untuk mempersunting gadis ini beliau harus memenuhi persyaratan, dengan menjawab pertanyaan dari gadis pujaannya (versi kedua yang membuat pertanyaan itu mertuanya ) yang berbunyi “ Siapakan sesungguhnya mas dan? Dan siapakah sesungguhnya saya ini?. Karena beliau tidak bisa menjawan pertanyaan itu berdasarkan pikiranya sendiri, maka beliau berguru kepada seorang ahli kebatinan yang bernama Nyoman Ida Gempol. Nyoman Ida Gempol  dalah seorang pungggawa besar dari Kerajaan Bali yang dibuang belanda ke sumatera kota padang, dan dikenal dengan nama raja kenanga manga tenggah.

Tahun 1898

Setelah persyaratan yang diminta oleh sich gadis pujaan beliau dapat terjawab, dengan menggukan ilmu setia hati, dengan demikian beliau berhasil mempersunting gadis padang, puteri ahli tasawuf dan dari hasil pernikahan tersebut belum mendapakan keturunan.

Beliau berserta dengan isterinya melanjutkan perantuanya ke banda aceh, di tempat ini Ki Ageng Soerodiwirdjo berguru kepada beberapa guru pencak silat, diantaranya :
* Tengku Achamd mulia Ibrahim
* Gusti kenongo mangga tengah
* Cik bedoyo

Dari sini diperoleh pelajaran – pelajaran, yakni:
* Permainan aceh pantai
* Permainan kucingan
* Permainan bengai lancam
* Permainan simpangan
* Permainan turutung

Tahun 1900

Eyang Suro  kembali ke betawi bersama isterinya dan beliau bekerja sebagai masisnis stoom wals, namun sayangnya beliau bercerai dengan isterinya, yang dimana ibu Soerodiwirjo kemabali ke padang dan beliau pindah ke kota bandung

Tahun 1902

Ki Ageng Soerodiwirdjo kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai anggota polisi dengan pangkat mayor polisi hingga mencapai pangkat sersan mayor. Di kota Surabaya beliau terkenal dengan keberanian dalam memberantas kejahatan. Kemudian beliau pindah ke kota Ujung, dimana sering terjadi keributan antata beliau dengan pelaut asing.

Tahun 1903

Di daerah tambak Gringsing untuk pertama kali Ki Ageng Soerodiwirdjo mendirikan perkumpulan mula-mula di beri nama ‘SEDULUR TUNGGAL KECER” dan permainan pencak silatnya bernama “ JOYO GENDELO” .pada hari jumat legi tapatnya 10 Syuro 1323 H

Tahun 1905

Untuk kedua kali beliau melangsungkan pernikahan dengan ibu sarijati yang saat itu berusia 17 tahun dan diperoleh 3 putera dan 2 orang putri, dimana sewaktu masih kecil wafat semua

Tahun 1912

Beliau berhenti dari kepolisian Dienar bersamaan dengan meluapnya rasa kebangsaan Indonesia yang dimulai sejak tahun 1908. Beliau kemudian pergi ke Tegal dan ikut seorang paman dari almarhum saudara Apu Suryawinata, yang menjabat sebagai Opzichter Irrigatie.,

Tahun 1914

Beliau kembali lagi ke Surabaya dan bekerja pada D.K.A. Surabaya. Selanjutnya beliau pindah ke Madiun di Magazijn D.K.A. dan menetap di Desa Winongo Madiun.

Tahun 1917

Sedulur tunggal kecer tersebut berubah, dan berdirilah pencak silat PERSAUDARAAN SETIA HATI, (SH) yang berpusat di madiun tujuan perkumpulan tersebut diantaranya, agar para anggota (warga) nya mempunyai rasa Persaudaraan dan kepribadian Nasional yang kuat karena pada saat itu Indonesia sedang di jajah oleh bangsa belanda.

Tahun 1933

Beliau pension dari jabatannya dan menetap di desa winongo madiun

Tahun 1944

Beliau memberikan pelajaran terakhir di Balong Ponorogo, kemudian jatuh sakit dan

Ki Ageng Soerodiwirdjo wafat pada hari jum`at legi tanggal 10 nopember 1944 jam 14.00 bulan selo 1364 H  dirumah kediaman beliau winongo dan di makamkan di makam Winongo madiun dalam usia enam puluh delapan tahun (68).

Wasiat KI ageng Soerodiwirjo:

  • Jika saya sudah pulang ke rahmatullah supaya saudara – saudara SETIA HATI tetap bersatu hati, tetap rukun lahir bathin
  • Jika saya meninggal dunia harap saudara – saudara SETIA HATI memberikan maaf kepada saya secara tulus ikhlas [AFZ]